Syair Penakluk Cinta

Siti Maymunah, adalah sesosok perempuan yang cantik jelita nan juga pintar, putri dari seorang pengusaha yang bergelar “Haji” Yang tak lain adalah pemilik toko Meubel terbesar didaerahku yang bertempatkan tepat dihadapan kios elektronik ayahku.
Namun siapa sangka jika siti ini ternyata hanyalah anak pungut yang tak jelas asal usulnya, karna istrinya pak haji sulit untuk mendapatkan keturunan, maka merekapun sepakat untuk mengadopsi seorang bayi perempuan dari sebuah rumah sakit disekitar daerah tempat dimana mereka tinggal.Awal kisah, ketika itu aku sedang mengikuti ujian sekolah terbuka tingkat SMA yang diselenggarakan ditempat dimana siti bersekolah, Maklum saja, dulu aku tidak melanjutkan sekolah karna tak ada biaya, makanya aku mengikuti ujian terbuka ini.
Disitulah pertama kali aku bertemu dengan siti, yang tak lain adalah siswi reguler disekolah tersebut. Siapa yang tak terpikat! Melihat gadis cantik berjilbab yang mengenakan kaca mata minus berukuran mini ini tersenyum lugu menatapku, akupun menjadi penasaran dan ingin lebih tahu lagi siapa dirinya.
Kemudian, setelah susah payang aku mencari tau tentang dirinya, akhirnya ada seorang temanku yang juga teman sekelas siti bersedia untuk menceritakan semua tentang siti, dan bahkan, dia bersedia untuk menjadi perantara dalam proses pendekatan antara aku dan siti.
Ternyata, selain cantik, gadis berkaca mata inipun sangat berprestasi disekolahnya, selain itu, siti juga sangat taat pada agama dan kedua orang tua angkatnya, semua tentang siti itu membuatku lebih bersemangat untuk berusaha mendekatinya, hingga disuatu kesempatan, aku berhasil mengajaknya berbincang-bincang sejenak membicarakan hal yang tidak karuan judulnya, namun apa yang terjadi? seluruh tubuhku bergetar ketika hendak berkenalan dengannya, mungkin karna gerogi yang kurasakan sangat dasyat, hingga aku mengalami hal yang tak biasa dari sebelumnya, walau begitu, aku sangat bersyukur karna ini adalah permulaan untukku berjuang dihari kedepan nanti.

Selang beberapa minggu kemudian, setelah aku berhasil mendekatinya, siapun memberi respon yang sangat bagus, seolah membuka harapan untukku agar bisa memilikinya.
Kemudian, aku memanfaatkan kesempatan ini untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan melalui sebuah puisi yang aku bacakan dihadapannya.

“Ko’ ada yah? perempuan yang cantiknya sempurna seperti kamu, bagaikan seorang putri, atau bahkan bidadari”. rayuanku yang sedikit ‘gombal’.

    “ah! gombal kamu, ketahuilah, aku bukan seorang putri ataupun bidadari seperti yang kamu sebut tadi”. Jawabnya seraya tertunduk malu, Yang kemudian aku terus merayu.
“Kamu memang bukan seorang putri, bukan pula bidadari, tapi nilaimu melebihi keduanya, itu yang membuatku memberanikan diri untuk mengutarakan perasaan ini, seraya mengajakmu untuk hidup bersamaku hingga dikemudian hari, walaupun aku bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa, melainkan hanya seorang pemimpi yang mengharapkan kebahagiaan, tetapi akupun punya hati untuk mencintai”.
    Setelah kami berdua terdiam begitu lama, akhirnya diapun berbicara.
“Maaf, aku tak bisa menjawab semuanya dengan secepat ini, berikan aku waktu seminggu untuk berpikir”
Kemudian, dengan sedikit rasa kecewa dan rasa tak sabar akupun menjawab,  “iya, engga apa-apa”
Dalam hatiku menggerutu “sebulan lamanya aku menunggu saat saat ini, namun mengapa harus pula menunggu selama seminggu? Kenapa tak dia katakan sekarang saja? kalau cinta ya bilang cinta, kalau enggak ya bilang enggak, jangan bilang cinta yang enggak-enggak. Katakan saja sekarang, kalaupun aku harus sakit hati, aku akan siap menerimanya, tapi ya sudahlah, aku tunggu saja seminggu kemudian, semoga saja keberuntungan menyertaiku”
Seminggu kemudian setelah aku menunggu, diapun menepati janjinya untuk menjawab apa yang aku tawarkan kepadanya, ditempat biasa kami bertemu, tanpa bicara panjang lebar, dan tanpa harus ditanya, diapun memberikan jawaban.
“Maaf beribu maaf, bukan maksudku menyakitimu, bukan pula merendahkanmu sebagai seorang lelaki, melainkan aku ingin melakukan hal yang lebih bermanfaat lagi selain pacaran, agar diantara kita semua tak ada permusuhan, karna bukan hanya kamu yang ingin memiliki aku, dan akupun menolak semuanya, demi terjalinnya pertemanan yang baik” jawabnya dengan penuh rasa bersalah.
Serentak aku terdiam, karna merasa harapanku ternyata hampa, namun aku mencoba untuk tetap tegar, dengan sedikit menangis, akupun menjawab.
    “Aku tak meminta untuk jadi yang paling istimewa dihatimu, aku hanya ingin mempunyai tempat untuk mencurahkan semua kasih sayangku, yang selama ini terbendung dan bahkan telah meluap melebihi tambak-tambak cinta dihatiku, hingga, apa bila terbuka pintu hatiku, maka kasih sayang itu akan membanjiri tempat dimana aku mencurahkannya, bukan sementara, melainkan selamanya”
“akupun tak pernah berniat untuk merusak hidupmu, atau merusak pertemanan antara aku, kamu dan yang lainnya, karna aku sadar, cinta tak harus memiliki, walaupun sangat menyakitkan ketika menerima kenyataan”.
Diapun menjawab
    “Aku benar-benar minta maaf, dan aku mohon agar kejadian ini tak membuat kita saling bermusuhan, mungkin kita akan diperjodohkan ketika aku benar-benar sudah dewasa kelak”
    Sangat sakit memang rasanya, namun sedikit terobati oleh kata-kata terakhirnya yang begitu manis.
    Beberapa hari kemudian, sakit hatiku bertambah parah ketika mendengar berita bahwa siti sudah berpacaran dengan pria lain, mereka resmi pacaran diwaktu yang bersamaan dengan kelulusan sekolah SMA-nya.
    Sungguh tak disangka, ternyata ucapan manisnya ketika menolak cintaku itu hanya pormalitas, sekedar untuk menenangkan hatiku dalam sesaat.
    “Mengapa harus menyemaikan benih jika bunganya kau gugurkan sebelum mekar?”
Dunia bagai menjadi gelap, udarapun terasa panas dan gerah walaupun saat itu dalam keadaan turun hujan, rasa sakit ini terasa sangat memilu karna merasa dipermainkan.
    Ditengah penderitaanku yang semakin berlarut, tiba-tiba datanglah Almarhum kakek kedalam mimpiki, akupun terheran, kakek memang tidak pernah menjadi tua, selalu terlihat awet muda walaupun dalam mimpi, beliau sangat mengerti keadaanku, dan beliau hanya berpesan,
    “Janganlah kamu terlalu mendalami kesedihanmu, jika kamu ingin mencapai suatu tujuan, maka carilah buku harian kakek digudang”
    Serentak aku terbangun dan memikirkan mimpi tersebut, akupun berpikiran “tidak mungkin suatu mimpi berkaitan dengan dengan kenyataan”, namun aku ingat, kakek adalah ahli ilmu hikmah semasa hidupnya, akupun sedikit yakin, dan mencoba mencari buku tersebut seperti yang diucapkan kakek dalam mimpi.
    Kemudian aku menemukan buku itu, didalamnya terdapat bungkusan yang berisi batu cincin yang biasa dipakai kakek dijari tangannya, ternyata, buku tersebut adalah rangkuman sya’ir do’a dalam bahasa sunda yang sering dipanjatkan kakek ketika mempunyai suatu tujuan.
    Didalam buku tersebut, aku membaca sebuah riwayat dan sya’ir do’a yang sering di amalkan kakek ketika merebut hati seorang wanita, yang berbunyi seperti berikut:
Yaa Allah gusti nu agung
Abdi nuhunkeun dihampura
Tina sagala kalepatan
Anu parantos janten tumpukan dosa
Yaa Allah Gusti nukawasa
Upami gusti kersa
Paparing abdi kabagja
Supados teu nista
Kanggo hatena …(sebut nama orang yang dituju)
Lebetkeun rasa kanyaah
Tuangkeun rasa kadeudeuh
Sisipkeun rasa kaheman kadiri abdi
Dina hatena … (nama orang yang dituju)
Amiin yaarobbal’alamiin
Didalam keterangan buku ini, kakek membaca syair tersebut hanya sebanyak 3X, namun sebelumnya kakek menjalankan solat hajat 2ra pada tengah malam, setelah itu dilanjutkan dengan membaca istigfar dan silawat masing-masing 100X, Ayat Kursyi 33X kemudian diakhiri dengan membaca syair do’a yang tertulis diatas td, setelah itu ditiupkan kepada batu cincin yang aku temukan didalan buku catatan kakek itu lalu dibawa tidur.Sungguh luar biasa, hanya semalaman aku melakukan ritual tersebut, esok harinya ternyata perempuan yang aku dambakan itu akhirnya…… Tak juga datang padaku, “haha,,, aku kira akan berhasil secepat ini, mungkin aku harus menunggu beberapa hari”
Seminggu kemudian, efek dari ritual yang aku jalani itu belum juga terasa, aku mulai putus asa dan kehilangan arah, hingga aku berfikir untuk berhenti mengharapkannya.
Tapi tiba-tiba ponselku berdering, akupun penasaran, siapa yang menelponku? sedangkan nomornya disembunyikan atau dengan sebutan Pripat Namber, lalu segeralah aku mengangkat panggilan diponsel tersebut, dan setelah kuangkat, aku sangat tidak menyangka, ternyata yang menelponku itu adalah…… Temanku yang dekat dengan siti, “haha, aku kira itu siti” temanku itu menyampaikan pesan yang dititipkan oleh siti, katanya siti merasa malu untuk bicara langsung denganku, siti memintaku untuk menemuinya ditempat biasa kami bertemu.

Disaat pertemuan itu, aku merasa bahagia yang teramat sangat ketika siti mengatakan,

“Maafkan aku, telah membohongimu dan mensia-siakanmu dulu, aku menyesal atas perlakuanku itu, terus terang aku malu, tapi aku harus mengatakan semua ini, karna aku tak kuat menutupi kenyatan, bahwa aku sangat,,, sangat,,,”

“sangat apa” sambungku sedikit memotong pembicaraannya, kemudian dia melanjutkan,

“sangat mengharapkanmu, untuk menjadi kekasihku”

Gelegar hatiku bergetar sangat kencang, bagaikan petir menyambar jantungku, kenapa? karna aku sangat kaget mendengar ucapannya yang membuatku merasa sangat bahagia setengah mati seperti ini, dan kini aku mengerti, kita tidak akan secara langsung merasakan hasil dari apa yang kita panjatkan kepada Tuhan, melainkan, ketika kita merasakan kesedihan yang teramat dalam, maka ketika itulah Tuhan mengabulkan do’a dan harapan kita.

This entry was posted on 15 September 2012. Bookmark the permalink.